hari ketiga diawali dengan kisah tragis partnetku, dia gak bisa keluar untuk cari sahur gara-gara pintu keluar dikunci, alhasil dia cuma makan sahur seadanya, kalau aku sih udah bisa gak sahur jadinya biasa aja. Dengan mengucap Bismillah, kita mulai perjalanan hari ini. Tujuannya Goa Selomangleng, Pesantren Lirboyo, dan Pare. Ketiga itu berada jauh dari pusat kota, jadinya kita lebih banyak menggunakan angkutan umum dibandingkan dengan berjalan kaki.

meskipun demikian, efek tidak makan sahur sangat berpengaruh pada partnerku, dia tampak lemah, letih, lesu, lunglai dan sebagainya. Ya meskipun semuanya tetap bisa berjalan, tapi hari ini ada yang kurang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Hari ini kurang gairah. ya, ternyata kondisi partnet in crime itu mempengaruhi perjalanan.

Untuk mengembalikan semangat dan staminanya itu, akhirnya diputuskan untuk mencari makanan yang layak, dan penginapan yang nyaman agar kejadian hari-hari sebelumnya tidak terulang. Belajar dari hari-hari kemarin, kita coba untuk cari informasi lebih lengkap sebelum datang ke tempat tujuan, dan akhirnya kami dapat menemukan informasi yang kita temukan, dan itu membuat kami kembali bersemangat, karena kami menemukan penginapan di dekat pusat Kota dengan harga murah tetapi fasilitasnya lengkap.

Dan malam terakhir di Kediri ini menjadi malam paling nyaman selama ini. Ya, sepertinya kami memang mengalami ‘berakit-rakit dahulu, berenang-renang ketepian’. Setelah merasakan bagaimana rasanya tidur di penginapan 50 ribu dengan fasilitas yang minim, dan terlalu memforsir kekuatan kaki, akhirnya kami memutuskan untuk sedikit memanjakan diri, dan membuat nyaman perjalanan ini. J

Pelajaran Ketiga:
Cari informasi selengkap-lengkapnya, sebelum kita ke tempat yang dituju. Dan pastikan partner dan diri kita dalam keadaan fit dan fresh, karena kondisi mempengaruhi menyenangkan atau tidaknya sebuah perjalanan.

Hari Kedua, full mengitari Kota Kediri dari pagi hingga malam. tenaga benar terkuras habis, dimulai dari kecamatan Mojoroto, sampai lintas Kota ke Simpang Lima Gumul. Hari kedua banyak dihabiskan dilingkungan pemerintah kota. memang susah berurusan dengan birokrasi, RIBET. mesti lewat prosedur inilah-itulah, bolak-balik kanan-kiri, capek fisik, dan capek hati. malah waktu habis cuman gara-gara nunggu lama, eh tau-tau ternyata emang gak bisa ditemuin tuh ‘orang-orang penting’. Yah hasilnya hampir 6 jam hanya muter di daerah itu-itu saja.

Meski sedikit kecewa karena target tidak dapat terpenuhi, tapi akhirnya dapat terhibur dengan menikmati Monumen Simpang Lima Gumul di pinggiran Kota Kediri, bangunan yang sekilas seperti monumen di Paris Prancis. Selain itu, dengan ditemani angin kencang, membuat kekecewaan tadi siang terbang. Kemudian semakin sore, lampu-lampu mulai dinyalakan, sebagai pertanda matahari mulai terbenam, dan menjadi petunjuk agar kami segera pulang. Ah, ternyata kita terlalu sore pulang, sehingga tak ada angkutan yang bisa membawa kami kembali ke Kota Kediri, terpaksa harus mengandalkan kaki lagi untuk membawa kami kembali. Syukur, di tengah jalan ada angkot kosong yang melintas, dan akhirnya bersedia mengantar kami, meskipun harganya menjadi lebih mahal.

Setelah kembali ke Kota Kediri, kemudian selanjutnya adalah perburuan penginapan, seperti biasa kami melakukannya dengan berjalan kaki, dengan modal tanya sana-sini, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Hotel Jawa dekat Stasiun Kediri, pertama masuk suasana jawa benar-benar terasa, meskipun dari luar tampak rak layak, karena sedang direnovasi. Hal yang membuat kaget adalah harga per malamnya untuk kamar ekonomi hanya 50 ribu saja. Sontak saja senyum kami mengembang dan langsung beristirahat sebentar, sebelum memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Perjalanan malam dimulai dengan menyusuri Jalan Dhoho yang merupakan pusat Kota Kediri, disana susana-nya memang ramai, kalau partner in crime-ku bilang, Jl. Dhoho seperti Dago-nya Kediri. Kemudian perjalanan menyusuri Jalan Dhoho diakhiri di Aloon-aloon Kediri, sebelum akhirnya harus putar balik kembali ke penginapan. Ya, olahraga malam yang cukup membuat kaki kuat itu berakhir diranjang besi, dan kamar bersuasana Jawa.

Pelajaran hari kedua:
Persiapkan surat menyurat lebih awal untuk ‘menghabiskan’ masalah birokrasi.

Dora: ‘Katakan Peta, katakan Peta!’

Kediri Bersemi, itulah slogan Kota yang menjadi tujuan pertama ekspedisiku. Kota yang sama sekali belum pernah tersentuh meskipun hanya dengan bayanganku, dan gelap. Aku buta Kota ini.

Dengan menggunakan bus, akhirnya pada pukul 16.30 kakiku dan kaki partner in crime-ku menginjak tanah Kota dengan Pendapatan Asli Daerah tertinggi di pulau Jawa setelah DKI Jakarta ini, setelah melakukan perjalanan yang dimulai dari Solo pada pukul 12.30. Hal pertama yang dicari sesampainya disini adalah penginapan, yang murah tentunya karena anggaran dana yang terbatas. Setelah jalan bolak-balik tanpa hasil, akhirnya pak polisi menjadi penyelamat dengan memberi tahu penginapan dengan harga cukup murah. Selain itu pak polisi memanggilkan becak dan menunjukkan kemana kami harus pergi. Dengan becak, kami melewati Kali Brantas, dan sampai di penginapan.

Hanya sempat menyimpan barang bawaan, dan cuci muka, serta membatalkan puasa, kemudian kami langsung keluar penginapan dan bermaksud untuk mencari rental sepeda motor agar bisa digunakan untuk mengitari Kota Kediri esoknya. Namun, maksud kami tak sampai, rental sepeda motor tidak dapat ditemukan, akhirnya dengan kekuatan kaki yang menopang badan kami, kami melanjutkan perjalanan malam ini.

Ah, hampir satu jam kami tidak menemukan tanda-tanda ‘kehidupan’ di Kota Kediri, jalanannya sepi dan minim lampu. Hampir putus asa and feel lost in Kediri, tiba-tiba mata kami tertuju pada lampu kelap-kelip, dan ternyata ada keramaian disana. Syukurlah, kami sudah kembali ke peradaban. Tempat yang cukup ramai tersebut ternyata Taman Sekartaji, dan di daerah sana ramai warung-warung lesehan kaki lima di depan Kantor Dinas Pendapatan Daerah. Ya! Satu target sudah ditemukan. Disana kami mengabadikan beberapa foto, yang mungkin saja hasilnya kurang maksimal.

Berjalan dan terus berjalan, melewati jembatan lama Kali Brantas, suasana ‘kota’ semakin terasa, tetapi tujuan kami untuk survey lokasi Kantor-kantor pemerintahan Kota Kediri tetap belum ada titik terang, sampai akhirnya rekanku berinisiatif untuk mencari peta. Lirik kanan kiri, depan belakang, tak ada tanda-tanda toko buku yang menjual peta, sampai kemudian bertemu dengan Kantor Pos, entah apa yang ada di pikiran kami, kami menganggap kalau disana kita akan bertemu dengan Peta Kota Kediri. Sedikit clingak-clinguk, lalu bertanya kepada salah satu petugas disana tentang peta, dia memberikan sinyal negatif, tapi kemudian melemparkan kami ke temannya, dan puji Tuhan temannya tersebut sangat ramah, dan dengan senang hati memberi tahu kami arah mana saja yang harus kami lewati agar bisa sampai ke Kantor Walikota dan toko buku.

Berbekal ‘ancer-ancer’ dari petugas Kantor Pos itu, kami meneruskan perjalanan. Yak! Hypermart depan mata, hatiku semakin lega… dan ternyata kantor walikota pun di dekat situ. Kediri Town Square jadi tempay untuk ‘isis’ pertama, sambil meneruskan niat untuk mencari peta. Tapi sayang, usaha di KETOS tak membuahkan hasil, sehingga memaksa kami melanjutkan perjalanan sampai menemukan Gramedia yang hampir tutup, dan syukur kami bisa menemukan PETA KOTA KEDIRI yang dicari.

Peta dibuka, dan kami kaget. Ternyata perjalanan 3 jam kami itu telah menempuh jarak yang lumayan jauh, lintas kecamatan. Karena kenyataan itu cukup membuat kami down, maka selanjutnya diputuskan untuk kembali ke penginapan dengan menggunakan becak. Dan beruntung, hanya dengan tarif Rp. 15 ribu, kami bisa mendapatkan cerita pengalaman bapak becak* dan kembali ke penginapan dengan selamat.

Pelajaran hari pertama:
Jangan kalah sama Dora, Peta menjadi alat penting untuk mengenali kota tujuan kita, apalagi kita masih buta dengan kota itu. Dengan peta, kita bisa menentukan tempat penginapan mana yang efisien yang dekat dengan tempat yang kita tuju. Alangkah baiknya kita mempersiapkan peta sebelum kita sampai di kota tujuan.

Kalian punya tempat favorit untuk melepas penat? Harusnya tiap orang memiliki special space itu, meski cuma di dalam kamar, atau di suatu spot tertentu yang entah dimana. Begitu pula dengan saya, saya punya tempat yang bisa menjadi pelepas penat ketika stress melanda, dimakah itu? Itu adalah tempat tanpa batas, dimana saya bisa melihat kesekeliling tanpa dibatasi apa pun, ya seluas-luasnya! Dan itu adalah atap gedung! saya suka naik ke lantai teratas sebuah gedung, di atapnya, sehingga bisa leluasa melihat kota SOLO dari lantai teratas, tak perlu saya terhalang tembok lagi, karena itu tempat tertinggi. Wah.. menyenangkan sekali, apalagi ketika angin berembus kencang menerpa wajah, serasa beban pun ikut terangkat dan pergi bersama angin…

Untuk spot yang sering saya kunjungi adalah atap Solo Grand Mall, parkiran lantai paling atas dan di malam hari, apalagi ditambah orang yang spesial *oops! Yang ini mah beda urusan*. Darisana kita bisa melihat lampu-lampu kota Solo di malam hari, ditemani angin malam.. menyenangkan dan bisa melapangkan hati seluas-luasnya..

Tempat lain yang bisa dikunjungi adalah atap RS Panti Waluyo, tempat ini memang lebih nyaman, karena memang tidak diperuntukkan buat parkiran, melainkan space khusus yang memang disediakan bagi pasien-pasien yang terapi *ngarang*. Meski tidak setinggi atap Solo Grand Mall, tetapi atap Panti Waluyo lumayan juga, kita bisa melihat pemukiman penduduk SOLO dari atas, juga bisa lihat lampu-lampu di Solo Square, selain itu anginnya juga cukup kencang J

Kemudian, kalau ingin melihat area keraton dari ketinggian, dan padatnya area Gladag, kalian bisa coba untuk menaiki lantai teratas dari Pusat Grosir Solo.

gladag

masih ijo-ijo

Nah, untuk obsesi tertinggi saya adalah, saya ingin sekali bisa naik ke lantai teratas Solo Paragon, bisa saya bayangkan seberapa kencangnya angin disana, bagaimana sensasi ketika melihat ke bawah, dan bagaimana rasanya berada di puncak tertinggi di kota Solo.. wahhh.. LUAR BIASA sekali! Kira-kira siapa ya yang bisa mengabulkan mimpi saya ini? mudah-mudahan itu bisa tercapai sebelum saya meninggalkan kota SOLO ini. amiin..

solo paragon

Oh ya, jadi inget, ada yang menjanjikan saya untuk naik ke atapnya hotel NOVOTEL, mudah-mudahan saja yang ngajak dulu itu masih ingat dan masih mau ngajak saya ke tempat itu. Amiin..

Nah, buat yang lainnya.. ada rekomendasi atap gedung mana yang bisa saya naiki? Di daerah Solo dan sekitarnya.. terima kasih. :D

kebun jeruk

Welcome to kebunjeruk.wordpress.com. This is my first post.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.