Birokrasi Oh Birokrasi

Hari Kedua, full mengitari Kota Kediri dari pagi hingga malam. tenaga benar terkuras habis, dimulai dari kecamatan Mojoroto, sampai lintas Kota ke Simpang Lima Gumul. Hari kedua banyak dihabiskan dilingkungan pemerintah kota. memang susah berurusan dengan birokrasi, RIBET. mesti lewat prosedur inilah-itulah, bolak-balik kanan-kiri, capek fisik, dan capek hati. malah waktu habis cuman gara-gara nunggu lama, eh tau-tau ternyata emang gak bisa ditemuin tuh ‘orang-orang penting’. Yah hasilnya hampir 6 jam hanya muter di daerah itu-itu saja.

Meski sedikit kecewa karena target tidak dapat terpenuhi, tapi akhirnya dapat terhibur dengan menikmati Monumen Simpang Lima Gumul di pinggiran Kota Kediri, bangunan yang sekilas seperti monumen di Paris Prancis. Selain itu, dengan ditemani angin kencang, membuat kekecewaan tadi siang terbang. Kemudian semakin sore, lampu-lampu mulai dinyalakan, sebagai pertanda matahari mulai terbenam, dan menjadi petunjuk agar kami segera pulang. Ah, ternyata kita terlalu sore pulang, sehingga tak ada angkutan yang bisa membawa kami kembali ke Kota Kediri, terpaksa harus mengandalkan kaki lagi untuk membawa kami kembali. Syukur, di tengah jalan ada angkot kosong yang melintas, dan akhirnya bersedia mengantar kami, meskipun harganya menjadi lebih mahal.

Setelah kembali ke Kota Kediri, kemudian selanjutnya adalah perburuan penginapan, seperti biasa kami melakukannya dengan berjalan kaki, dengan modal tanya sana-sini, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Hotel Jawa dekat Stasiun Kediri, pertama masuk suasana jawa benar-benar terasa, meskipun dari luar tampak rak layak, karena sedang direnovasi. Hal yang membuat kaget adalah harga per malamnya untuk kamar ekonomi hanya 50 ribu saja. Sontak saja senyum kami mengembang dan langsung beristirahat sebentar, sebelum memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Perjalanan malam dimulai dengan menyusuri Jalan Dhoho yang merupakan pusat Kota Kediri, disana susana-nya memang ramai, kalau partner in crime-ku bilang, Jl. Dhoho seperti Dago-nya Kediri. Kemudian perjalanan menyusuri Jalan Dhoho diakhiri di Aloon-aloon Kediri, sebelum akhirnya harus putar balik kembali ke penginapan. Ya, olahraga malam yang cukup membuat kaki kuat itu berakhir diranjang besi, dan kamar bersuasana Jawa.

Pelajaran hari kedua:
Persiapkan surat menyurat lebih awal untuk ‘menghabiskan’ masalah birokrasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s