Berkenalan dengan Kota Kretek Kediri

Julukan Kota Kretek sudah sangat melekat pada Kota Kediri. Kota yang dibelah oleh Sungai Brantas itu memang menjadi pusat pabrik rokok terbesar di Jawa Timur. Kota yang memiliki luas wilayah mencapai 63,40 Km2 ini sedang menunjukkan kemajuan wilayahnya di bidang perdagangan.

Kota ini awalnya berupa sebuah Kerajaan Kadiri. Tapi pada akhirnya dipilah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu. Raja kerajaan Kediri yang terkenal adalah Jayabaya. Raja ini terkenal dengan karyanya yang berupa Jangka Jayabaya yang berisi sebuah ramalan-ramalan yang akan terjadi pada negeri ini kelak. Setelah kejayaan tersebut, kerajaan Kediri perlahan-lahan tenggelam dan menurut sejarah Raja terakhir Kerajaan Kediri Kertajaya, beliau meninggal dalam petempuran di desa Tumapel dalam perlawanan melawan Ken Arok pada 1222, Ken Arok ialah Raja Singosari yang pertama yang wilayahnya menggantikan Kerajaan Kediri.

Kemudian pada zaman perang dunia ke dua, pada saat jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 Agustus 1945 dan 9 Agustus 1945, yang membuat Jepang bertekuk lutut di hadapan tentara sekutu pada tanggal 14 agustus 1945, sehingga terjadi Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945. Tidak lama setelah proklamasi tersebut di Kediri muncul Syodancho Mayor Bismo (Mayor Bismo) bersama-sama tokoh Gerakan Pemuda yang dengan penuh semangat, penuh kesadaran disertai keberanian bertekad mengambil alih kekuasaan pemerintah dari tangan Jepang.

Mayor Bismo mengawali masuk dan membimbing Fuku Cho Kan Alm. Abdul Rochim dan ditengah-tengah gelora massa mengumumkan kesediaannya berdiri di belakang Pemerintahan RI dan mengangkat diri sebagai Residen RI Daerah Kediri yang pertama. Massa rakyat dengan pimpinan Mayor Bismo menyerang Markas Ken PE Tai (Jalan Brawijaya no 27), yang diakhiri melalui perundingan dengan hasil Jepang menurunkan benderanya dan diganti dengan bendera Merah Putih bangsa Indonesia.

Demikian sekilas perebutan kekuasaan dari bangsa Jepang di Kediri. Habislah sejarah pemerintahan Jepang di Kediri, maka pemerintah beralih kepada RI. Mula-mula Walikota didampingi oleh Komite Nasional Kotamadya, kemudian daerah berkembang sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Dengan latar sejarah yang sedemikian panjangnya, Kediri memiliki berbagai macam potensi, salah satunya di bidang pariwisata. Untuk bidang pariwisata tersebut, Kediri memiliki objek unggulan yang bisa disesuaikan dengan selera para wisatawan. Untuk wisatawan yang tertarik dengan peninggalan sejarah, Kediri memiliki Gua Selomangleng dan Komplek Museum Airlangga yang menyajikan koleksi peninggalan zaman kerajaan Hindu Kadiri. Bagi yang senang berbelanja, di Kediri Kota sudah banyak didirikan mall dan pasar swalayan yang mampu mengakomodir segala kebutuhan. Meski demikian Jalan Dhoho tetap menjadi tempat favorit yang wajib untuk dikunjungi, karena merupakan pusat keramaian kota yang tak pernah tidur. Selain itu, Taman Sekartaji yang tak jauh dari aliran Sungai Brantas pun bisa menjadi lokasi yang tepat untuk sekadar bersantai bersama keluarga di malam hari, dengan ditemani berbagai macam makanan dan minuman khas Kediri.

Dalam perkembangan Pemerintah Kota Kediri sendiri terus meningkatkan potensi pariwisatanya dengan merevitalisasi objek wisata, serta pembangunan fasilitas berupa hotel dan tempat hiburan lainnya, contohnya untuk meningkatkan daya tarik Gua Selomangleng yang merupakan salah satu ikon wisata unggulan kota Kediri yang juga menyandang sebagai peninggalan masa klasik dengan pengunjung terbanyak di Jawa Timur pada tahun 2005 ini, dibangun wisata air Selomangleng yang cukup ramai dikunjungi oleh keluarga yang ingin menghabiskan waktu bersama, dan dengan itu kawasan wisata Selomangleng saat ini telah bertaraf nasional.

Faktor pendukung wisata Kediri pun terus ditingkatkan, seperti promosi oleh-oleh khas produk lokal Kota Kediri seperti Tahu Takwa, Stik Tahu, dan gethuk pisang. Pun kuliner yang bisa ikut menarik minat para petualang rasa, yaitu Nasi Pecel Tumpang yang dengan mudah dapat ditemukan di sudut-sudut Kota Kediri. Selain itu, 23 hotel dengan klasifikasi melati sampai bintang tiga pun telah dibangun kota kediri untuk menyambut para wisatawan yang akan menghabiskan waktu disana.

Untuk yang senang bertualang pada malam hari, tak hanya Jalan Dhoho yang bisa didatangi, tetapi lesehan di sepanjang Jalan Supriadi atau daerah Taman Sekartaji sampai ke Jembatan Lama berderet lesehan yang saling sambung menyambung. Di lesehan tersebut disediakan penganan yang asik untuk dinikmati dengan santai, seperti jagung dan roti bakar, serta dilengkapi oleh kopi panas atau teh hangat. Lesehan yang berderet dengan panjang lebih dari setengah kilometer ini biasanya buka sampai dini hari.

Selain disebut sebagai Kota Kretek, Kediri pun dinobatkan sebagai kota santri, dengan berdirinya banyak pondok pesantren. Salah satunya adalah kompleks pondok Pesantren Lirboyo. Pesantren yang berdiri sejak tahun 1910 M ini berorientasi pada pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan ini, tetap mempertahankan nilai-nilai Salafy, karena bertujuan agar para santri dapat melestarikan perjuangan para ulama dalam mengembangkan syiar Islam dalam berbagai kondisi dan situasi.

Dengan demikian, lengkaplah sudah pesona Kota Kediri, dimulai dari wisata peninggalan sejarah dan budaya di Gua Selomangleng dan Museum Airlangga, wisata belanja di Jalan Dhoho, wisata malam di lesehan Taman Sekartaji, dan wisata religi di Pondok Pesantren Lirboyo.

This slideshow requires JavaScript.

23/8/2011

photos by: Haris Sunarmo

3 thoughts on “Berkenalan dengan Kota Kretek Kediri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s