Monumen Simpang Lima Gumul: Sekerat Paris di Persimpangan

Sore itu, angin berhembus cukup kencang menerpa pohon-pohon sawit yang berjajar memagari jalan trotoar yang bercabang. Suara canda tawa pun memenuhi sebuah lokasi yang mirip dengan L’Arch de Triomphe Paris. Lokasi itu adalah Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri.

Monumen yang berada tepat di tengah-tengah titik pertemuan dari lima jalur yang menghubungkan beberapa wilayah sekitar Kediri, yaitu Malang dan Plosoklaten dari arah timur, Kota Kediri dari arah barat, Blitar dari arah selatan serta Jombang dari arah utara ini berdiri sejak tahun 2007.  Monumen SLG sering disebut dengan Ka’bah Kediri oleh masyarakat setempat, karena berbentuk kubus laiknya Ka’bah di Mekah, dan banyak orang yang harus melakukan ‘tawaf’ untuk melihat monumen tersebut secara keseluruhan, atau pun gara-gara terlambat belok di persimpangan tujuan mereka karena terpesona keelokan bangunan ini.

Isi dari monumen SLG ini berupa ruang untuk pertemuan di gedung utama, hall auditorium dan diorama di lantai atas yang beratapkan kubah (dome), ruang serba guna di basement, serta minimarket yang menjual souvenir di lantai bawah. Monumen ini juga memiliki tiga akses jalan bawah tanah menuju monumen yang terhubung ke basement dari tempat parkir.

Selain itu, karena di sekitar monumen SLG tidak diperbolehkan ada pedagang masuk, maka pemerintah daerah memberikan lokasi khusus bagi pedagang SLG di sebelah utara monumen, yang serupa dengan pasar malam, dan tiap harinya mulai beroperasi sejak sore hari. Disamping itu, rencananya akan dibangun mall di sebelah selatan monumen, yang akan menjadi daya tarik wisata lain bagi SLG.

Jika senja mulai menyapa, Monumen SLG akan semakin ramai. Bisa dilihat di berbagai sudutnya orang-orang beraktivitas, mulai dari latihan Capoeira, break dance, ataupun hanya sekadar foto-foto dengan latar matahari terbenam. Contohnya sore itu, Fahmi dan Indra, siswa SMK Al-Huda Kediri ini mengaku senang dengan suasana SLG, karena bisa dipakai untuk tempat nongkrong sambil menunggu hari gelap. “Enak disini, bisa ngobrol-ngobrol dan gratis,” ungkap Fahmi.

Tak terasa hari sudah gelap, tapi itu tak memudarkan pesona Monumen SLG. Ketika lampu sorot mulai dinyalakan, keindahan lainnya mulai terpancar, Monumen SLG semakin tampak gagah. Hal tersebut membuat mata tak ingin melepaskan pandangannya, sayang, untuk para pengunjung yang datang menggunakan angkutan umum, itu tandanya harus segera pulang karena angkutan yang melintasi SLG sudah semakin jarang. Ya, sekerat Paris di Kediri itu, tak kan mudah hilang dari ingatan.

This slideshow requires JavaScript.

Agustus 2011

photos by: Haris Sunarmo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s